Rabu, 15 Juli 2009

Ateis menjawab Gambit Pascal (Pascal's Wager)

Tulisan ini adalah sebagian dari rangkaian tulisan dari draft naskah Ateis UnderKlepon.
Beberapa bulan yang lalu saya sempat surat-suratan dengan DaengFatah , saya mungkin akan membalas artikel2nya dengan sebuah buku, biar para ateis nggak terlalu GR hik hik hik. Judulnya Ateis Under Klepon : Menjawab Ateis Indonesia. Dia cuma senyam senyum kayaknya sih kan lewat surat. Dia bilang ya ya ya, buat saja.

Karena kesibukan buku itu nggak selesai2, sekarang ini sih sekitar 80%, apalagi saya sempat ke luar kota beberapa bulan. Saya nggak tahu apakah ada penerbit yang berminat atau nggak terhadap buku antik model beginian . Hi hi hi.
Oke, inilah persembaran dari lovepassword :

Ateis UnderKlepon Begin : Ateis Menjawab Gambit Pascal

==========================================

Gambit Pascal atau Pertaruhan Pascal atau Pascal’s Wager adalah salah satu di antara argumentasi klasik teis ketika berdiskusi dengan ateis. Karena sifatnya yang klasik, argumen ini tentu juga sudah dipelajari sebaik-baiknya oleh para pemikir dari pihak ateis.

Isi dari pertaruhan atau pemilihan Pascal kurang lebih seperti ini :

Tuhan bila dilihat dari sisi manusia adalah sesuatu yang tidak bisa dibuktikan keberadaan/ketidakberadaanNya. Karena sifat Tuhan adalah tidak terhingga. Sedangkan manusia itu sendiri dipenuhi keterbatasan.

Walaupun Tuhan itu sendiri tidak bisa dibuktikan, manusia harus memilih dalam ketidakpastiannya apakah percaya Tuhan ada atau tidak. Dalam posisi seperti ini maka Pascal sebagai seorang pakar probabilitas menyarankan seperti ini : Posisi yang paling ideal bagi manusia adalah jika mereka percaya bahwa Tuhan ada.

Alasannya : Jika Tuhan ternyata tidak ada, dan tidak ada penghakiman kelak, maka pada dasarnya tidak ada kerugian apapun bagi pihak yang percaya Tuhan. Pihak yang tidak percaya Tuhan maupun pihak yang percaya Tuhan berada pada posisi yang sama yaitu tidak mengalami kerugian/keuntungan apapun.

Sementara di sisi lain, jika ternyata Tuhan itu benar ada, maka pihak yang mempercayai Tuhan akan mendapatkan berkat/surga sedangkan pihak yang tidak percaya Tuhan akan mengalami kerugian karena mendapatkan rohani kematian/neraka . Karena itu - posisi yang ideal yang seharusnya dimiliki manusia adalah mempercayai Tuhan.

GAMBIT PASCAL
Beriman -
Jika Tuhan Ada - Untung
Jika Tuhan Tidak ada - Tidak Rugi

Tidak Beriman -
Jika Tuhan Ada - Rugi
Jika Tuhan Tidak Ada - Tidak Untung


Seperti yang sudah saya katakan di depan, Gambit Pascal adalah argumentasi klasik sehingga pasti juga sudah dipelajari oleh para ateis.

Berikut ini beberapa argumentasi dari pihak ateis dalam menghadapi gambit Pascal :

Probabilitas setiap kemenangan dalam gambit Pascal sebenarnya sangat kecil. Teis hanya melihat bahwa Tuhan itu ada atau Tuhan itu tidak ada. Sekarang tarohlah bahwa Tuhan benar ada, anda harus melihat lagi probabalitasnya apakah Tuhan yang anda percayai adalah Tuhan yang benar.

Daeng Fatah seorang rekan ateis, dalam sebuah postingan di blognya secara “gigih” berhasil mengumpulkan lebih dari 348.001.600 figur atau nama yang dipercayai manusia sebagai Tuhan. Berikut ini beberapa nama yang dipercayai sebagai Tuhan oleh manusia :

1.Aah = tuhan bulan Mesir
2.Abassi = Tuhan Efik (Nigeria)
3.Abgal = Tuhan kebijaksanaan mesopotamia
4.Abuk = Tuhan Dinka (Sudan)
5.Abandinus = tuhan Celtic
6.Abangui = Tuhan Guarani
7.Acan = Tuhan anggur Maya
8.Acantuns = Tuhan maya
9.Acat = Tuhan Tattoo Maya
10.Achelois = Tuhan bulan yunani
11.Achelous = Tuhan sungai yunani , dan masih banyak lagi.
(dari : Ateisme untuk Kemanusiaan – Lebih dari 348.001.600 Tuhan).

Logika ateis : karena Tuhan itu sendiri ada sedemikian banyaknya, lebih dari 340 juta nama Tuhan yang dipercayai manusia Maka andaikata Tuhan itu benar ada, maka probabilitas teis untuk masuk surga/tidak dihukum juga sangat-sangat kecil yaitu cuma 1/340 juta. Karena kemungkinan manusia menyembah Tuhan yang benar hanya 1/340 jutaan.
Argumentasi yang lain : Jika logikanya adalah sekedar bermain aman, maka semestinya umat beragama menyembah Tuhan yang memberikan hukuman yang paling kejam, sekaligus yang memberikan hadiah yang paling banyak. Karena itu lebih menguntungkan. Faktanya Tidak mungkin seseorang mau diajak pindah agama hanya atas dasar ini. Orang yang beragama X tidak mungkin pindah ke agama Y hanya karena alasan Tuhan agama Y lebih kejam.

Jika Tuhan itu sungguh ada, maka justru sangat mungkin Tuhan memberikan penghargaan kepada ateis yang secara serius dan jujur berusaha mencari kebenaran sejati meskipun mungkin tidak mendapatkannya - ketimbang orang-orang yang secara munafik merasa sudah tahu apa itu kebenaran padahal mereka sebenarnya tidak perduli tentang benar dan salah. Kecuali jika Tuhan ingin agar surga diisi oleh orang-orang yang malas berpikir atau orang-orang yang sekedar senang bermain aman dalam berjudi atau senang berhitung untung rugi dengan Tuhan.

Jika Tuhan itu sungguh tidak ada, bukan berarti teis tidak dirugikan sama sekali karena berarti mereka telah membuang-buang waktu dan biaya yang tidak berguna untuk kegiatan-kegiatan ibadah mereka : Beribadah di rumah, beribadah di mesjid, beribadah di gereja, berperang atas nama Tuhan, membuang uang untuk keperluan ibadah dan sebagainya. Sementara di sisi lain, waktu dan sumberdaya tersebut bisa dialokasikan untuk hal lain yang berguna. Jika Tuhan sungguh tidak ada, maka secara logika perbuatan-perbuatan seperti itu sangat tidak berguna dan patut disesalkan.

Adalah ironi bila agama yang secara umum katanya melarang perjudian, meletakkan dasar keimanannya pada perjudian model kanak-kanak yang hanya didasarkan atas motivasi keserakahan semata. Bahkan tanpa menikmati prosesnya.

Bagaimana kita menghadapi ini ?

Ide dasar dari Gambit Pascal sebenarnya sederhana, Memiliki Tuhan adalah kebutuhan manusia. Jika manusia tidak memiliki Tuhan maka manusia cenderung akan rugi.

Sisi yang agak kurang enak dalam teori ini, adalah : timbul kesan bahwa konsep agama itu sangat materialistis karena pertimbangannya semata-mata probabilitas untung dan rugi. Karena itu tidak semua pemeluk agama juga sependapat atau setidaknya merasa nyaman memakai argumentasi Pascal ini.

Dalam banyak agama - ada beberapa perbedaan pendapat . Ada yang menganggap bahwa berharap pahala itu baik, ada juga yang walaupun senang dapat pahala – tetapi merasa agak tidak nyaman bila ada pemikiran ibadah itu didasarkan semata-mata atas hitung-hitungan dengan Tuhan. Istilahnya : Terkesan berbisnis atau berdagang dengan Tuhan. Karena itulah ada juga pemeluk agama yang memilih tidak memakai argumentasi ini ketika berdiskusi dengan ateis, karena mereka berprinsip dasar ibadah itu keikhlasan.

Meskipun demikian, bagi penganut argumentasi ini, kekokohan argumentasi Gambit Pascal juga tidak bisa mudah disingkirkan begitu saja – termasuk oleh serangkaian bantahan dari ateis.

Berikut ini bantahan balik untuk para ateis terkait dengan Gambit Pascal :

1.Ateis berkata Probabilitas Kemenangan dalam Gambit Pascal sebenarnya sangat kecil. Jawaban satu : Kalaupun agama itu banyak, bagaimanapun secara probabalitas - umat beragama lebih untung daripada ateis karena kans ateis adalah nol. Jawaban dua : Banyaknya agama justru menunjukkan bahwa kerinduan akan Tuhan adalah fitrah dasar bagi semua umat manusia. Terlepas dari adanya perbedaan, ateis harus melihat juga bahwa ada pola kerinduan yang sama dari penganut agama terhadap Penciptanya. Ini justru menunjukkan kalau Tuhan itu ada. Sampai sejauh ini, tidak ada argumentasi yang cukup memadai dari para ateis, darimanakah asal muasal konsep Tuhan. Konsep Tuhan jelas bukan konsep yang terkait dengan peniruan yang bisa ditiru manusia dari pengalaman lahirnya.

2.Kalau kita melihat ini dari sudut pandang probabilitas, maka sebenarnya tidak tepat jika dikaitkan dengan Tuhan yang kejam atau tidak kejam, Tuhannya agama X, agama Y, dan sebagainya. Karena probabilitas di sini kaitannya dengan peluang kemenangan – tidak terkait dengan besar/kecilnya hadiah. Beragama memang tidak bisa dilihat semata-mata dari besar kecilnya kemungkinan pahala dan hukuman - karena terkait dengan perasaan individual. Seseorang yang merasa kemungkinan menang di satu topik besar – lebih masuk akal memilih itu – ketimbang memilih hal lain yang memberikan kemungkinan hadiah lebih besar – tetapi kemungkinan mendapatkan hadiah lebih kecil. Tetapi sekali lagi pemilihan itu terkait dengan perasaan individual.

3.Masalah penghargaan dari Tuhan – itu hak mutlak Tuhan sepenuhnya. Konsep untung rugi di sini dilihat dari ajaran yang ada dalam agama. Agama mengajarkan jika A maka B. Sebagai umat yang beriman maka kaum teis meyakini itu sehingga ada perasaan rugi ketika tidak berTuhan. Merasa untung jika memiliki Tuhan. Masalah lain yang terkait dengan usaha pencarian kebenaran sepenuhnya urusan anda pribadi dengan Tuhan.

4. Hal lain yang juga harus dilihat : Tidak ada argumentasi yang cukup memadai dari anggapan ateis bahwa manusia yang mempercayai Tuhan adalah identik dengan manusia yang malas berpikir. Konstribusi penganut agama dalam perkembangan ilmu pengetahuan serta secara umum peradaban manusia – tentu juga tidak bisa diabaikan.

5.Besar kerugian umat yang beriman bila memang asumsi meleset sebenarnya sangat-sangat kecil. Jelas tidak bisa dibandingkan dengan kerugian ateis yang berpotensi mendapat hukuman abadi. Tarohlah jika ibadah itu dianggap sebagai hobby atau pelampiasan kebutuhan kejiwaan semata-mata. Baik teis maupun ateis punya kans yang sama untuk menghabiskan waktu untuk hal-hal seperti ini. Artinya ditinjau dari sisi manapun kerugian ateis lebih besar. Pendapat bahwa jika Tuhan tidak ada maka perbuatan-perbuatan ibadah patut disesalkan adalah pendapat yang tidak logis. Karena Pertama : Selama manusia masih hidup maka manusia tidak akan bisa membuktikan Tuhan ada atau tidak. Kedua : Kalaupun anggap saja pendapat ateis benar bahwa Tuhan itu memang tidak ada, dan tidak ada penghakiman setelah mati. Apa yang bisa disesali oleh orang mati, jika tidak ada penghakiman setelah mati. Bila Tuhan tidak ada - Baik masih hidup atau sudah mati – teis tidak akan menyesal karena orang mati tidak akan bisa menyesal bila penghakiman itu tidak ada. Di sisi lain bila Tuhan itu sungguh ada - maka jelas justru ateis–lah yang akan menyesal.

6.Ide dasar dari Gambit Pascal tidak dimaksudkan supaya manusia semata-mata berorientasi pada materi atau hadiah semata tanpa menikmati atau bahkan mengkhianati proses : Menipu Tuhan yang Maha Tahu dan sejenisnya. Tetapi Pascal menganggap bahwa suatu proses bisa berjalan melalui pembelajaran dan pembiasaan. Analogi gampangnya begini : Kesadaran untuk membuang sampah pada tempat seharusnya itu baik. Tetapi pada tahap awal pada lingkungan masyarakat yang tidak terbiasa melakukan itu perlu ada reward and punishment. Lambat laun masyarakat akan terbiasa1.membuang sampah di tempat yang seharusnya. Dan mereka melakukannya dengan kesadarannya sendiri.

SALAM


2 komentar:








iklan mobil

mengatakan...

pertamax kah?? wedew berat bacanya sob, ttg ketuhanan... teteplah gw percaya tuhan.





Anonim

mengatakan...

waduh ini topik sudah lama sekali,
ni ada topik baru yang fresh dan jadi bahan diskusi:
sebuah-konspirasi.blogspot.com

Mohon dikritisi.....




Posting Komentar

Terimakasih telah Berkunjung ....Ditunggu Komentarnya Lho....Silahken Silahken.... ^_^