Sabtu, 01 November 2008

Tragedi Kusni Kasdut dan Nasib Tentara Kita

Malam ini di tvone ada film dokumenter yang cukup menarik mengenai penjahat legendaris Indonesia : Kusni Kasdut. Kusni Kasdut penjahat top markotop Indonesia tahun 50-80 puluhan adalah mantan TKR. Bekas pejuang.

Kusni lahir dari keluarga miskin di Blitar. Sempat berjuang menjadi TKR di masa-masa awal kemerdekaan Indonesia. Kusni “bernasib sial” karena dia tidak lolos dalam seleksi tentara yang diadakan pada masa itu.


Ketika Indonesia sudah merdeka maka muncul wacana untuk menciptakan Tentara Indonesia yang lebih professional. Ada rasionalisasi besar-besaran atau dalam bahasa gamblangnya : Ada pengurangan jumlah tentara, sehingga banyak tentara yang di PHK waktu itu. Lha Kusni ini salah satu di antara sekian banyak tentara yang diberhentikan pada waktu itu.


Ada kekecewaan yang mendalam. Ada juga tekanan ekonomi, kecemburuan sosial, dsb yang akhirnya mendorong manusia ini menjadi penjahat nomor satu Indonesia.

Kusni sempat menjadi begitu terkenal ketika merampok permata di sebuah museum di Jakarta. Dalam aksi yang mirip-mirip dengan cerita dalam film, dia menyandera pengunjung museum, dan sempat menembak mati seorang petugas museum. Dia juga dikenal sebagai pembunuh pengusaha sukses keturunan Arab : Ali Bajened. Kusni menjadi buronan yang sangat terkenal. Dia pernah dijatuhi dua hukuman mati karena serangkaian kejahatannya. Dan nasib Kusni pun akhirnya berakhir di pelor regu tembak di tahun 80 an.


Masa “kejayaan” Kusni Kasdut telah lama berakhir, anak-anak muda jaman sekarang mungkin tidak ada lagi yang kenal namanya. Jaman juga sudah banyak berubah, tapi ada satu yang tidak berubah, yaitu nasib tentara-tentara kita yang tidak juga kunjung membaik. Ketika saya bicara tentara tentu yang saya maksud adalah tentara rendahan. Jadi kita abaikan pembahasan kita mengenai jenderal yang mungkin nasibnya “sedikit” lebih baik. Apalagi kalau Sang Jendral “mau menjual” jabatannya.


Secara umum, nasib tentara masih ngenes : Gaji kecil, alat-alat cuma klimis di luarnya saja karena dilap setiap hari, tapi berapa banyak di antara alat itu yang berfungsi ? Hi Hi Hi. Belum lagi nangis batin setiap hari karena dijadikan titik tembak banyak kalangan, dibenturkan dengan rakyat oleh penguasa.

Mungkin lebih nyaman rasanya bila tidak punya hati nurani. Hik hik.


Tapi yah, tentara toh juga manusia yang punya hati. Secara umum bisa kita anggap demikian.


Di antara sekian banyak tekanan itu, tentara juga harus pandai-pandai mengatur keuangannya, tidak saja untuk kegiatan sehari-hari keluarga yang kabarnya gaji selalu habis sebelum tanggal 15 - tetapi juga untuk masa depannya kelak ketika pensiun.


Betapa banyak kita dengar keluarga pensiunan tentara yang secara mengenaskan terusir dari rumah dinas yang ditempati mereka bertahun-tahun. Tentu muncul lagi kepedihan demi kepedihan, kekecewaan demi kekecewaan. “Jangan tanyakan apa Negara yang berikan kepadamu tapi tanyakanlah apa yang bisa kamu berikan kepada negaramu.” Hik Hik Hik, blukutuk kutuk- bullshit.

Apa keluarga saya bisa kenyang dengan makan kata-kata mutiara ?? ? Ha ha ha.


Penguasa bisa memakai bemper apa saja. Agama bisa, Nasionalisme bisa, apapun bisa. Tapi apa kekecewaan bisa dikenyangkan dengan makanan seperti itu ? Hik Hik. Makan tuh kata-kata mutiara.


Coba kita bayangkan juga perasaan anak-anak muda tentara yang berada di garis depan mengusir seniornya yang miskin dari rumah dinas. Kalo saya jadi tentara tentu saya sudah nangis batin.


Muka boleh garang, tapi hati saya rasa tetap nangis membayangkan kelak nasib saya juga mungkin bakal berakhir seperti itu. Hari ini saya diperintahkan menggusur guru-guru saya, mengusir senior saya dari rumah-rumah mereka - kelak di masa depan junior saya bakal diperintahkan mengusir keluarga saya. Hik Hik. Menurut anda apakah perasaan tentara itu enggak ngenes ?? Baik yang diusir maupun yang berada di garis depan untuk mengusir ya pasti sama-sama ngenes. Dua kelompok ngenes harus kepruk-keprukan dengan semangat ngenes yang sama. Abrakadabra.


Enak ya bisa mentung kepala orang ? Gratis lagi. Hik Hik. Tapi malamnya bisa-bisa malah nggak bisa tidur. Memandang langit-langit sambil berkaca-kaca. Cepat atau lambat saya juga akan diusir bahkan sangat mungkin akan kepruk-keprukan dengan junior saya. Ulet ulet kepompong kupu-kupu - kacian deh lu. Asli memang ngenes itu.


Keluarga tentara yang pinter ada yang secara kembang kempis lumayan berhasil mengatur keuangan rumah tangga. Kemungkinan besar ada usaha sambilan. Tapi secara umum, pasti akan ada lagi penjaga-penjaga bangsa yang harus diusir lagi oleh junior mereka, dari rumah yang berpuluh tahun ditempati keluarganya. Rasanya ? Mungkin asin, mungkin pahit, mungkin kecut – tapi kalo manis rasanya nggak.


Rehabilitasi tentara setelah perang ya apa sudah dipikirkan. Di Aceh mantan GAM yang sudah bertobat itu juga masih berpotensi jadi penyakit. Kalo tidak ada upaya serius untuk menangani ini, di masa depan mungkin kita dengar lagi ada banyak penjahat-penjahat sangar baru yang berasal dari militer bahkan dari mantan-mantan pejuang. Rasanya sedih saja melihat para pejuang kita dipaksa keadaan menjadi bajingan.


SALAM untuk seluruh aparat. SALAM DAMAI untuk Tentara Nasional Indonesia. Sabar ya bos. Kok gua lagi yang disuruh sabar sih?

Iya deh. Para aktivis dan para teman Mahasiswa kalian juga jangan terlalu galak ya ? TOS.

SALAM juga untuk para pemuda Indonesia yang sedang merayakan Sumpah Pemuda.